Makalah Konversi Agama Psikologi Agama
TUGAS TERSTRUKTUR DOSEN PEMBIMBING
Psikologi
Agama Abdul
Hadi, M.Ag
“KONVERSI AGAMA”
DISUSUN OLEH:
LAILA RAHMATINA :
1201210417
MUHAMMAD NAZIB :
1201210547
M. RIZKI ARJUDDINNOOR :
1201210532

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
BANJARMASIN
2014
KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah. yang atas
Rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Konversi
Agama”.
Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas
dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah “Psikologi Agama”
di Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Antasari Banjarmasin.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing yang telah banyak membantu penulis agar dapat menyelesaikan makalah
ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih
luas kepada pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan teman-teman. Aamiiin...
Banjarmasin,
Mei 2014
PENYUSUN
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………….. i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………..... ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar
Belakang Masalah…………………………………………………… 1
- Rumusan Masalah…………………………………………………………. 2
- Tujuan Penulisan…………………………………………………………...
2
- Metode
penulisan………………………………………………………….. 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Konversi Agama...……..………………………………………. 3
B.
Macam-Macam Konversi
Agama....................................................................4
C.
Faktor Penyebab Terjadinya Konversi
Agama........................…………….. 4
D.
Proses Konversi Agama.....…………………………………………………8
E.
Contoh Konversi Agama dalam Agama Islam................................................9
BAB III PENUTUP
- Simpulan…………………………………………………………………… 17
- Saran-Saran………………………………………………………………… 17
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………… 18
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Manusia hidup di dunia
tidak lepas dari masalah kehidupan. Ada yang bahagia, maupun menderita, dan ada
yang miskin dan adapula yang kaya. Dari perbedaan masalah tersebut terkadang
menyebabkan seseorang mengalami kegoncangan batin, bahkan terkadang merasa
putus asa. Untuk itu manusia akan mencoba atau berusaha untuk mencari pegangan
atau ide baru, dimana disitu dia bisa merasakan ketenangan jiwa.
Dampak yang paling
menonjol dari modernitas adalah keterasingan (alienasi) yang dialami oleh
manusia. Alienasi muncul dari cara pandang dualisme, yaitu: jiwa-badan,
makhluk-Tuhan, aku-yang lain, kapitalis-proletar. Akhirnya terjadilah gejala reifikasi
atau pembedaan antar sisi dari dualitas tersebut. Ini disebut pula objektivikasi,
yaitu manusia memandang dirinya sebagai objek, seperti layaknya sebuah benda.
Jika Anda membayangkan
bahwa Anda terasing dengan orang-orang di sekitar Anda, mungkin Anda bisa
mengalihkannya dengan sibuk dengan diri sendiri. Tetapi, bagaimana jika Anda
terasing dengan diri Anda sendiri? Degradasi moral sering terjadi karena
manusia tidak mampu mengatasi penyakit jiwa manusia modern ini. Narkotika, seks
bebas, bahkan bunuh diri sering menjadi pelarian. Hidup tampaknya menjadi tidak
berarti lagi. Mereka yang tertolong atau segera menemukan pencerahan dari
kekelaman jiwa ini akan bangkit dan memeluk suatu keyakinan yang baru. Suatu
keyakinan yang akan membuat hidupnya terasa lebih berarti, hidup yang
bertujuan, yaitu kembali kepada Tuhannya. Terjadilah pembalikan arah, atau
konversi. Dalam bahasa agama disebut pertobatan (taubat, metanoia). Konversi agama secara umum dapat
diartikan dengan berubah agama ataupun masuk agama. Konversi agama sebagai
suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan
arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. Lebih
jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan
emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah secara mendadak, telah
terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula
terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.
Dari definisi tersebut dapat dibayangkan betapa sukarnya
mengukur dan meneliti fakta konversi tersebut. Sama halnya dengan fakta-fakta
psikis lainnya. Kita tidak dapat meneliti secara langsung proses terjadinya
konversi tersebut, dan keadaan jiwa apa yang memungkinkan terjadinya peralihan
keyakinan secara mendadak itu.
Oleh karena itu, pada
makalah ini kami akan
membahas atau menguaraikan masalah
tentang Konversi Agama.
- Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian konversi agama ?
2.
Apa saja macam-macam konversi agama ?
3.
Apa saja faktor penyebab terjadinya konversi
agama ?
4.
Bagaimana proses konversi agama ?
5.
Bagaimana contoh nyata orang yang mengalami
konversi agama ?
C. Tujuan
Penulisan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi dua
bagian, yaitu tujuan khusus umum dan khusus. Tujuan umum adalah untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Psikologi Agama. Adapun tujuan khusus dari
penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui dan memahami pengertian konversi agama.
2. Untuk
mengetahui macam-macam konversi agama.
3. Untuk
mengetahui dan memahami faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konversi
agama.
4. Untuk
mengetahui dan memahami bagaimana proses konversi agama.
5. Untuk
mengetahui contoh konversi agama.
D. Metode
Penulisan
Dalam proses
penyusunan makalah ini menggunakan studi literatur sebagai teknik pendekatan
dalam proses penyusunan dan penulisan makalah ini. Selain itu juga menggunakan pencarian di Internet.
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian Konversi Agama
Konversi agama menurut etimologi konversi berasal
dari kata lain “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berubah (agama).
Selanjutnya, kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang
mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke
agama lain (change from one state, or from one religion, to another).
Berdasarkan kata-kata tersebut dapat diartikan bahwa
konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik
pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.[1]
Sedangkan menurut terminologi, Konversi
agama menurut pengertian ini dikemukakan beberapa pendapat, yakni:
- Max
Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan di mana
seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem
kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.
- W.H.Clark mendefinisikan konversi agama merupakan
sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang
mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran
dan tindakan agama.[2]
- William
James mengatakan, konversi agama merupakan berubah, digenerasikan, untuk
menerima kesukaan, untuk menjalani pengalaman beragama, untuk mendapatkan
kepastian adalah banyaknya ungkapan pada proses baik itu berangsur-angsur
atau tiba-tiba, yang dilakukan secara sadar dan terpisah-pisah, kurang
bahagia dalam konsekuensi penganutnya yang berlandaskan kenyataan
beragama.[3]
Ciri-ciri seseorang melakukan konversi
agama menurut Ramayulis adalah:
- Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang
terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
- Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan,
sehingga perubahan tersebut dapat terjadi secara berproses atau secara
mendadak.
- Perubahan tersebut tidak hanya berlaku bagi pemindahan
kepercayaan dari satu agama ke agama lain, akan tetapi juga termasuk
perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
- Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, maka
perubahan itu pun disebabkan oleh faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.[4]
Dari uraian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa pengertian konversi agama adalah merupakan suatu tindakan di
mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem
kepercayaan atau perilaku ke sistem kepercayaaan yang lain.[5]
- Macam-Macam
Konversi Agama
Starbuck
sebagaimana diungkap kembali oleh Bernard Splika membagi konversi menjadi 2
(dua) macam, yaitu:
1.
Type valitional (perubahan
secara bertahap)
Yaitu konversi yang terjadi secara berproses,
sedikit demi sedikit, hingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan
rohaniah yang baru.
2.
Type self surrender
(perubahan secara drastis)
Yaitu konversi yang terjadi secara mendadak.
Seseorang tanpa mengalami proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya
terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan tersebut dapat terjadi dari
kondisi tidak taat menjadi taat, dari tidak kuat menjadi kuat keimanannya, dari
tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya.[6]
- Faktor Penyebab Terjadinya Konversi Agama
Berbagai ahli berbeda
pendapat dalam menentukan faktor yang menjadi pendorong konversi. Di antara para
ahli tersebut adalah:
1.
Menurut William James William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience dan
Max Heirich dalam bukunya Change
of Heart menguaraikan pendapat dari para ahli yang terlibat
dalam disiplin ilmu,
masing-masing mengemukakan pendapat bahwa konversi agama disebabkan faktor yang
cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni.[7]
a.
Para ahli agama
mengatakan bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah
petunjuk Ilahi. Pengaruh supernatural berperanan secara dominan dalam proses
terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.
b. Para ahli sosiologi berpendapat,
bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial.
Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya
berbagai faktor lain:
- Pengaruh hubungan antar pribadi baik
pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama (kesenian, ilmu pengetahuan
ataupun bidang kebudayaan).
- Pengaruh kebiasaan yang rutin. Pengaruh ini
dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jika
dilakukan seacara rutin hingga terbiasa, misalnya: menghadiri upacara
keagamaan, ataupun pertemuan yang bersifat keagamaan baik pada lembaga formal,
ataupun nonformal.
- Pengaruh anjuran atau propaganda
dari orang-orang yang dekat, misalnya: karib, keluarga, dan family
- Pengaruh pemimpin keagamaan.
- Pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi.
- Pengaruh kekuasaan pemimpin.
c.
Para ahli
psikolog berpendapat bahwa yang menjadi pendorong terjadinya konversi agama
adalah faktor psikologis yang
ditimbulkan oleh faktor intern maupun ekstern. Faktor-faktor tersebut apabila
mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga menimbulkan semacam gejala tekanan
batin , maka akan terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin.
Yang dapat dikategorikan sebagai
faktor intern antara lain:
-
Kepribadian.
Secara psikologis tipe kepribadian tertentu akan
mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian William James ditemukan
bahwa tipe melankolis yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat
menyebabkan terjadinya konversi dalam dirinya.
-
Pembawaan.
Menurut penelitian Guy E. Swanson ditemukan semacam
kecenderungan urutan kelahiran yang mempengaruhi konversi agama. Anak sulung
dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin. Sementara anak yang
dilahirkan pada urutan tengah atau antara sulung dan bungsu sering mengalami
stres jiwa.
Sedangkan yang termasuk dalam faktor
ekstern antara lain:
1. Faktor keluarga, kerekatan keluarga, ketidakserasian, berlainan
agama, kesepian, kesulitan seksual, kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat. Kondisi
demikian menyebabkan batin seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering
terjadi konversi agama dalam usahanya untuk meredakan tekanan batin yang
menimpa dirinya.
2. Faktor lingkungan tempat tinggal. Yang termasuk dalam faktor ini
adalah ketersaingan dari tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu
tempat yang menyebabkan seseorang hidupnya sebatang kara.
3. Perubahan status. Perubahan status yang dimaksud dapat
disebabkan oleh berbagai macam persoalan, seperti: perceraian, keluar dari
sekolah atau perkumpulan dan lain sebagainya.
4. Kemiskinan. Masyarakat awam yang miskin cenderung untuk memeluk agama yang
menjanjikan dunia yang lebih baik.
d. Para
ahli pendidikan berpeendapat bahwa konversi agama dipengaruhi oleh kondisi
pendidikan. Penelitian ilmu sosial menampilkan data dan berargumen bahwa
suasana pendidikan iut mempengaruhi konversi agama. Wlaupun belum dapat
dikumpulkan data secara pasti tentang pengaruh lembaga pendidikan terhadap
konversi agama namun berdirinya sekolah-sekolah yang bernaung dibawah yayasan
agama tentu mempunyai tujuan keagamaan pula.[8]
2. Menurut Zakiah Daradjat, faktor-faktor tersebut adalah:
a. Pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan
perasaan, orang-orang yang gelisah, di dalam dirinya bertarung berbagai
persoalan, yang kadang-kadang dia merasa tidak berdaya menghadapi persoalan
atau problema.
b. Pengaruh hubungan tradisi agama. Seperti pengaruh
lembaga-lembaga keagamaan, masjid-masjid, gereja-geraja.
c. Ajakan/seruan dan sugesti.
d. Faktor-faktor emosi, orang yang emosional (lebih sensitif
atau banyak dikuasai oleh emosinya), mudah kena sugesti, apabila ia sedang
mengalami kegelisahan, kekecewaan.
3. Menurut Sudarno, selain faktor-faktor di atas, ia
menambahkan empat faktor pendukung, yaitu:
a. Cinta
b. Pernikahan
y7¨RÎ)
w ÏöksE
ô`tB
|Mö6t7ômr&
£`Å3»s9ur
©!$#
Ïöku
`tB
âä!$t±o
4 uqèdur
ãNn=÷ær&
úïÏtFôgßJø9$$Î/
ÇÎÏÈ
Artinya:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat
memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk
kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang
mau menerima petunjuk.” (QS: AL-Qashash: 56)[11]
`yJsù
ÏÌã
ª!$#
br&
¼çmtÏôgt
÷yuô³o
¼çnuô|¹
ÉO»n=óM~Ï9
( `tBur
÷Ìã
br&
¼ã&©#ÅÒã
ö@yèøgs
¼çnuô|¹
$¸)Íh|Ê
%[`tym
$yJ¯Rr'2
ߨè¢Át
Îû
Ïä!$yJ¡¡9$#
4 Ï9ºx2
ã@yèøgs
ª!$#
}§ô_Íh9$#
n?tã
úïÏ%©!$#
w cqãZÏB÷sã
ÇÊËÎÈ
Artinya: “Barangsiapa yang Allah
menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya
untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah
ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang
yang tidak beriman.” (QS: Al-An’am: 125)[12]
Dari uraian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa faktor penyebab konversi agama adalah pertama faktor intern
meliputi: kepribadian, emosi, kemauan, konflik jiwa, kebenaran agama, hidayah.
Kedua faktor ekstern meliputi: faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal,
pengaruh hubungan tradisi agama, cinta, dan pernikahan.
- Proses
Konversi Agama
Proses yang dilalui oleh orang-orang yang mengalami
konversi, berbeda antara satu dengan lainnya, selain sebab yang mendorongnya
dan bermacam pula tingkatnya, ada yang dangkal, sekedar untuk dirinya saja dan
ada pula yang mendalam, disertai dengan kegiatan agama yang sangat menonjol
sampai kepada perjuangan mati-matian. Ada yang terjadi dalam sekejap mata dan
ada pula yang berangsur-angsur.[13]
Menurut Dr. Zakiah Daradjat bahwa tiap-tiap konversi agama itu melalui proses-proses
jiwa sebagai berikut:
1. Masa tenang pertama, masa tenang
sebelum mengalami konversi, di mana segala sikap, tingkah laku dan
sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.
2. Masa ketidaktenangan, konflik dan pertentangan
batin berkecamuk dalam hatinya, gelisah, putus asa, tegang, panik. Baik
disebabkan oleh moralnya, kekecewaan atau oleh apapun juga.
3. Peristiwa konversi itu sendiri
setelah masa goncang itu mencapai puncaknya, maka terjadilah peristiwa konversi
itu sendiri. Orang merasa tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan, mendapatkan
kekuatan dan semangat.
4. Keadaan tentram dan tenang. Setelah
krisis konversi lewat dan masa menyerah dilalui, maka timbullah perasaan atau
kondisi jiwa yang baru, rasa aman di hati, tiada lagi dosa yang tidak diampuni
Tuhan, tiada kesalahan yang patut disesali, semuanya telah lewat, segala
persoalan menjadi enteng dan terselesaikan.
5. Ekspresi konversi dalam hidup.
Tingkat terakhir dari konversi itu adalah pengungkapan konversi agama dalam
tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh jalan hidupnya
berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama.[14]
Sedangkan H. Carrier, membagi proses konversi agama dalam pentahapan
sebagai berikut:
1.
Terjadi disentegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai
akibat dari krisis yang dialami.
2. Reintegrasi kepribadian berdasarkan
konversi agama yang baru.
3.
Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang
dituntut oleh ajarannya.
- Contoh Kasus
Konversi Agama
Untuk memberikan gambar yang nyata dan
mendalam mengenai proses konversi agama, kami akan mengemukakan beberapa
contohnya, yakni:
Contoh 1
Kisah Khalifah
Umar bin Khattab ra.
Bagi setiap orang islam yang mengenal sejarah islam, tentunya tidak asing
baginy ariwayat Umar bin Khattab sebelum dan sesudahnya masuk islam. Secara
ringkas akan kita ikuti Umar,
sebagai seorang yang mengalami konversi agama dalam bentuk yang sangat ekstrem. Perubahannya sangat besar, terjadi
dengan tiba-tiba, seolah-olah tidak ada proses jiwa, yang mendahuluinya.
Fase-fase konversi yang dilalui adalah sebagai berikut:
Umar adalah seorang bengsawan Arab
yang terkenal berani, keras, kasar, pantang kalah dalam perkelahian, pintar
bicara, pandai main
dan selalu memperlihatkan kekuatan dan kebengisannya. Setiap orang di kota Mekkah takut kepadanya.
Ketika Nabi Muhammad saw.mulai secara
sembunyi-sembunyi menyiarkan ajaran islam kepada sahaba-sahabatnya yang
terdekat, Umar telah mendengarnya. Ia ingin menghentikan seruan Nabi Muhammad
itu, akan tetapi, tempat Muhammad dan sahabat-sahabatnya tidak diketahuinya. Pengikut Muhammad
makin lama makin bertambah juga, walaupun mereka takut dengan Umar.
Pada suatu hari, dalam suatu
perjalanan pulang dari berburu, Umar bermaksud akan langsung mencari Muhammad
dan membunuhnya. Ketika sampai di kota orang yang pertama kali bertemu dengan
dia adalah suami adiknya, yang telahmasuk islam. Umar bertanya, “Dimana
Muhammad ?” matanya tampak berapi-api.
Adik
iparnya itu cemas melihat gelagat Umar bertanya, tentu ia akan melakukan
sesuatu terhadap Muhammad. Lalu dijawabnya, “Buat apa Muhammad Tuan cari?”
Umar terkejut mendengar pertanyaan adik iparnya itu, kenapa
dia berani berkata seperti itu. Sambil menjawab, “Saya memerlukannya, akan saya
bunuh supaya berhenti dari perbuatan mengembangkan keyakinan yang baru itu.”
Iparnya menjawab lagi,”Apakah Tuan ingin
membunuh orang yang baik yang berusaha memperbaiki segala kebobrokan ini dan
membawa manusia kepada jalan yang benar?”
Umar marah mendengar jawaban adik
iparnya, serta menanyakan, “Apakah engkau juga sudah menjadi pengikut
Muhammad?”
Tanpa ragu-ragu dia menjawab, “Ya”
Umar semakin marah dan langsung menghembus pedang, serta
maju menyerang. Iparnya membela diri dan menghindari pedang Umar sambil bekata,
“Tuan menyerang aku, sedang adik Tuan sendiri (istrinya) juga telah menjadi
pengikut Muhammad.”
Dia merasa sangat terkejut mendengar bahwa adiknya sudah
menjadi pengikut Muhammad pula, iparnya itu, dtinggalkannya dan langsung pergi
menuju rumah adiknya. Waktu sampai dipintu, terdengar olehnya adiknya sedang
membaca Al-Qur’an (sedang belajar dengan seorang guru). Pintu diketoknya dengan
keras. Adiknya segera membuka pintu, ketakutan. Begitu pintu terbuka, Umar
menanyakan apakah betul adiknya telah menjadi pengikut Muhammad sambil
memukulnya langsung.
Adiknya menjawab, ”Ya, saya ikut dia, karena ada hal yang
baik yang saya pelajari darinya.”
Kearahan Umar semakin bertambah mendengar jawaban itu,
sehingga bertambah keras pula pukulannya, sampai adiknya luka-luka dan bajunya
berlumuran darah.
Melihat adiknya berlumuran darah itu,ia berhenti,dan
bertanya : “Apa yang tadi kedengarannya oleh saya dari luar?”
Kata adiknya,
“Ayat Al-Qur’an.”
“Mana dia? Perlihatkan kepadaku!” bentak Umar.
Kata adiknya “Tidak, engkau kotor, tidak boleh
menyentuhnya, engkau harus mandi dulu sebelum menyentuhnya.”
“Baiklah
kata Umar, ia pergi mandi. Setelah itu kembali kepada adiknya. Lalu Umar
mengambil lembaran yangditulis di atasnya ayat-ayat tadi, lalu di bacanya:
mÛ
ÇÊÈ !$tB
$uZø9tRr&
y7øn=tã
tb#uäöà)ø9$#
#s+ô±tFÏ9
ÇËÈ wÎ)
ZotÅ2õs?
`yJÏj9
4Óy´øs
ÇÌÈ WxÍ\s?
ô`£JÏiB
t,n=y{
uÚöF{$#
ÏNºuq»uK¡¡9$#ur
n?ãèø9$#
ÇÍÈ
1. Thaahaa
2. Kami tidak
menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;
3. tetapi sebagai
peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),
4. Yaitu diturunkan
dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (QS: Surat Taahaa: 1-4)[16]
Setelah dibacanya ayat-ayat itu,dia
diam sebentar, kemudian menanyakan, “Dimana Muhammad?”
Adiknya telah melihat perubahan air
muka abangnya, lalu menunjukkan tempat berkumpulnya Muhammad dan
sahabat-sahabatnya secara
sembunyi-sembunyi itu.
Umar langsung menuju ke tempat itu. Sesampainya di sana
sahabat-sahabat telah merasa takut, jangan-jangan Umar datang akan membunuh
Muhammad. Sebelum membukakan pintu untuk Umar, mereka telah bermufakat akan
membela Muhammad. Tapi Muhammad menyuruh salah seorang mereka membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, begitu Umar langsung menuju Muhammad.
Muhammad memegangnya sambil berkata: “Wahai Umar, belum datangkah masanya
bagimu untuk beriman?”
Umar menjawab, “ Ya, sekarang saya percaya bahwa tiada
Tuhan kecuali Allah dan engkau Rasul-Nya.”
Semua sahabat yang hadir terharu mendengar pengakuan Umar
yang tidak disangka-sangka iyu, dan mereka serentak membaca Allahu Akbar.
Umar berkata, “Ya Muhammad, bukankah kita berada di jalan
yang benar?”
Muhammad menjawab, “Ya.”
Lalu Umar berkata, “ Mengapa kita harus sembunyi-sembunyi
seperti ini, tidaklah lebih baik kita mengajak orang secara terang-terangan dan
mereka mengenal mereka?”
Demikianlah sesudah itu, pengikut Muhammad semakin banyak
dan makin kuat, karena semenjak Umar masuk Islam, perjuangan Muhammad tidak
lagi sembunyi-sembunyi seperti dahulu, tapi dengan terang-terangan. Karena
itulah maka Umar diberi gelar “Al-Faruok” (yang istemawa) oleh nabi Muhammad
saw.
Setelah masuk islam, segala sifat Umar yang buruk dulu,
berubah sama sekali, kekerasan dan kekejamannya berganti dengan penyantun dan
pengasih dalam menghadapi orang-orang dan mencintai mereka. Dari benci kepada
Muhammad, berubah menjadi Khalifah yang paling sukses, tekun melaksanakan
ajaran islam dalam kehidupannya sebagai pemimpin yang baik, danyang selalu
berusaha memperhatikan rakyatnya, sampai kepada hal-hal yang berkecil-kecil,
sehingga semua rakyat mencintai Umar.
Agama islam di zaman pemerintahan Umar sangat maju,
karena ia sangat keras mendisiplini
dirinya, agar jangan ada larangan agama yang terlanggar olehnya. Banyak sekali
kisah Umar dengan rakyatnya, yang menunjukkan betapa rendanya hati Umar serta
kesayangannya kepada rakyatnya.
Sepintas lalu kita melihat, bahwa proses konversi agama
pada Umar tejadi sekejap mata, hanya karena mendengar ayat Al-Qur’an yang mengubah hatinya. Ia berbalik 1800
dalam sifat-sifat, tindak, tingkah laku, dan perasaannya. Ahli agama dengan
mudah menyatakan bahwa, “Hidayah Allah” , telah datang, Tuhan membalikkan hati
yang keras seperti batu itu, menjadi lembut; keingkaran berubah menjadi
keyakinan yang mendalam dan seterusnya.
Ahli-ahli tidak akan mengingkari soal petunjuk Allah yang
diberikan-Nya kepada siapa pun, yang di
kehendaki-Nya dan kapan saja. Di yang Maha Mengatur, hati manusia
sekalipun. Namun maslah itu, adalah diluar bidang penelitian ilmu jiwa, tidak
dapat dianalisa dan diteliti secara ilmiah modern, karena itu termasuk masalah
kepercayaan. Oleh sebab itu, yang dicoba oleh peneliti-peneliti di bidang Ilmu
Jiwa aialah mengetahui proses jiwa, yang terjadi pada sesorang, yang mengalami
konversi agama dan perasaan apa yang meliputinya waktu itu.
Dalam riwayat Umar bin Khattab, yang pada permulaan
hidupnyasebagai seorang kuat, berani dan sangat membela adat kebiasaan kaumnya.
Bahkan sebelum masuk islam, ia pun pernah menguburkan hidup-hidup anak
perempuannya, yang telah pandai bermain karena takut akan di ketahui orang
bahwa ia mempunyai anak perempuan, (kalau anak itu lahir maka dikuburkan
hidup-hidup sebelum orang lain tahu). Perasaan yang haus akan penghargaan dan
kekuasaan telah membuat umar sangat menjaga dan memelihara tradisi
bangsanya, walaupun tradisi itu salah dan merugikan.
Kedatangan Nabi Muhammad saw. Dengan seruan tauhid,
menggoncangkan keyakinan bangsa Arab Quraisy dan menyebabkan Umar merasa
tersinggung karena ajaran Muhammad itu menunjukkan kelemahan dan kesalahan
tradisi dan agama yang telah lama mereka hormati itu. Karena itulah, maka Umar
marah dan ingin membunuh Muhammad.
Umar telah biasa mengadakan reaksi dengan emosi, dengan
kekerasan tanpa berpikir panjang, karena itu, ia tidak ingin mengetahui dan
memikirkan apa yang dijalankan oleh Muhammad, perasaannya lebih cepat
mengadakan reaksi daripada pikirannya (orang yang emosional). Dalam keadaan
emosi yang semakin lama makin memuncak itu, umar mengetahui bahwa ipar dan adik
kandungnya pun ikut menodai harga dirinya dengan menjadi pengikut Nabi
Muhammad. Tanpa pikir ia menghunus pedang kepada adik iparnya dan memukuli adik
iparnya sendiri dan memukuli adiknya sendiri sampai luka-luka dan berlumuran darah.
Setelah kemaharannya dilampiaskan dengan memukuli adiknya
sampai luka-luka itu, maka ketegangan batin dan
tekanan perasaannya telah dihamburkan keluar, sehingga kelegaan batin
(release of tension) terjadi, ketika batinnya telah lega,ia melihat adiknya
yang telah berlumuran darah, sedang merintih kesakitan. Rasa kasihnya datang,
ia pun merasa menyesal atas tindakannnya, sehingga ia ingin melihat apa yang
sedang dibaca adiknya, ketika ia datang tadi. Karena yang dibacanya itulah yang
mempercepat reaksi emosinya meledak keluar seperti itu.
Ketika hatinya sedang lembut, setelah menyesal, suruhan adiknya
itu mandi sebelum menyentuh lembarann yang dibacanya itu, diikuti tanpa pikir
panjang.dalam proses jiwa yang kita kenal, setelah pelegaan batin terjadi,
emosi yang meluap menjadi turun dan rasio dalam menjalankan fungsinya kembali.
Demikianlah setelah mandi, lembaran itu di terima oleh Umar dari adiknya lalu
hatinya tertarik kepada isi yang tertulis, sebab pikirannya sedang tenang.
Waktu itulah ia menyadari bahwa ajaran yang baru itu memang benar dan baik,
selanjutnya ia meninggalkan yang lama,
yang telah mengakibatkan putri tercintanya sendiri menjadi korban dari
keyakinan yang lama.
Setelah keyakinannya berubah 1800, sikapnya
yang mengikutinya keyakinan itu, sedang sifat emosioanal yang ada padanya,
tetap berjalan terus, tapi dengan bimbingan keyakinan yang baru. Itulah
sebabnya,maka ia menjadi pejuang islam yang istemewaseperti diakui oleh Nabi
Muhammad saw. Sendiri (Al-Farouk umar = umar yana istemewa).
Pejuang islam yang keras hati, penyantun dan memegang disiplin. Tindakan dan
sifat-sifat baru, yang di sinari oleh keyakinan yang baru itulah yang
menentramkan hatinya sampai akhir hayat.[17]
Contoh 2
Lie
A Jang dan Zainab merupakan keluarga hasil kawin campuran. Si suami berasal dari keluarga Cina
peranakan, sedangkan isteri berasal dari Cirebon. Masyarakat kampong tidak
mengetahui secara rinci, bagaimana keluarga itu terbina, sebab keduanya dalah
pendatang. Mereka diterima dilingkungan ini, karena keduanya menunjukkan sikap
yang baik.
Dalam pergaulan penduduk setempat ,
si suami sudah akrab dengan panggilan Ajnag , yang oleh anak-anak dan
remaja disapa dengan Uwak Ajang. Demikian pula, si isteri akrab dengan
panggilan Uwak Jen (mungkin kependekan dari Jenab). Keluarga itu sendiri
tidak dikaruniai anak. Maka untuk mengatasi kesunyian , pernah mencoba
mengambil anak familinya dari kampong asal. Namun, tidak bertahan lama.
Akhirnya , keluarga itu kembali hidup berdua seperti sebelumnya.
Menurut para tetua kampong,
keluarga itu sudah cukup lama menetap, yaitu sejak suaminya diterima menjadi
pegwai diperusahaan tambang timah setempat. Tenaganya di butuhkan , tapi karena
buta aksara, ia ditugaskan sebagai pembantu rumah tangga merangkap “tukang
kebun”. Tempat tugas tetapnya menguru rumah dinas pejabat perusahaan. Sejak
perusahaan masih dipegang oleh Belanda, hingga ke bangsa sendiri setelah
merdeka, tugas sebagai tungang kebun dan pembantu rumah tangga tak pernah
beralih. Namun, tampaknya ia mampu menakar kemampuan diri dan menyenangi
pekerjaan itu yang dilakoninya hingga pensiun.
Sbagai masyarakat dikampung itu
pergaulan Ajang seakan terbatas. Dalam upacara-upacara agama, ia tak mungkin
turut serta, walaupun setiap hari lebaran para tetangga mengundan dan mengunjungi
rumahnya. Di keluarga sendiri, Ajang dan isterinya tampak sudah mangubah
kebiasaan hariannya. Selama berada dilingkungan tersebut, keluarga ini idak
mengkonsumsi makanan dan minuman yang diharamkan Islam. Padahal agama yang
dianut kedua suami isteri itu sendiri tidak jelas.
Hidup di tengah-tengah masyarakat
muslim dalam waktu yang cukup lama, tampaknya belum mampu mengubah keyakinan
agama Ajang. Menurut pengakuannya , selama itu ia sama sekali tidak tertarik
untuk beralih agama. Baginya yang penting dapat diterima masyarakat dan
diterima dalanm pergaulan. Prinsip itu pula yang ia lakoni selama berada
dilingkungan masyarakat kampung.
Numun , prinsip hidup yang sudah
dipertahankannya itu akhirnya luntur juga. Dalam pengakuannya setiap tahun
perasaannya selalu tersentuh oleh lantunan suara takbir. Saat-saat seperti itu
ingatan kepada orang tua dan sanak familinya yang sudah entah dimana menjadi
demikian rentannya. Tak terasa dalam kesendirian secara tak sadar air matanya
menetes. Pengalaman batin yang seperti itu , selalu kembali selama tahun-tahun
kehidupannya di kampung itu.
Sebagai keputusan akhir ia pun
berupaya mengadukan keluhan batinnya kepada pemuka agama setempat, menyatakan
dirinya untk masuk Islam. Pada usia yang sudah setengah baya, ia pun beralih
agama , dengan nama baru yaitu Bujang.
Sebagai pengiring, setelah upacara peresmian pindah agama, proses perkawinan
keduanya pun dikukuh ulang.
Semua pengalaman keagamaan tu
menurut pengakuan yang bersangkutan ikut
memberi ketenangan batin. Rasa keasingan yang dialami sebelumnya serta merta
lenyap. Pada waktu-waktu shalat ia berusaha untuk hadir dilanggar bersama-sama
penduduk. Dirinya seakan hidup kembali dalam suasana baru. Hingga meninggal
ajang tetap setia dengan ajaran agama yang menjadi pilihan akhirnya.
Barangkali , cukup banyak kasus
yang menyangkut konversi agama ini. Namun demikian menurut kajian psikologi
agama, terjadinya perubahan arah tersebut takkan lepas dari penyebab utamanya,
yaitu karena petunjua (Hidayat Ilahi), akibat penderitaan batin ataupu pilihan
sendiri setelah malalui pertimbangan yang masak. Di awal-awal terjadinya
perubahan itu, setiap diri merasakan kegelisahan batin. Sulit untuk menentukan
secara spontan mana yang harus diikuti.
Kesulitan seperti itu adalah wajar,
karena agam sebagai keyakinan menyangkut sisi-sisi kehidupan batin seseorang
yang berkaitan dengan nilai. Bagi manusia ,nilai adalah sesuatu yang dianggap
benar dan menyangkut pandangan hidup. Oleh karena itu, selain peka, nilai juga
merupakan sesuatu yang perlu dipertahankan oleh seseorang. Bahkan, pada tingkat
yang paling tinggi pemeluk keyakinan itu rela mempertaruh nyawa , demi
mempertahankan nilai itu.[18]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Konversi agama
adalah merupakan suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk
atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku ke sistem kepercayaaan
yang lain. Starbuck sebagaimana diungkap kembali oleh Bernard Splika membagi
konversi menjadi 2 (dua) macam, yaitu: type valitional (perubahan secara
bertahap) dan Ttype self surrender (perubahan secara drastis).
Faktor penyebab konversi agama adalah
pertama faktor intern meliputi: kepribadian, emosi, kemauan, konflik jiwa,
kebenaran agama, hidayah. Kedua faktor ekstern meliputi: faktor keluarga,
lingkungan tempat tinggal, pengaruh hubungan tradisi agama, cinta, dan
pernikahan.
Menurut Dr. Zakiah Daradjat bahwa tiap-tiap konversi agama itu
melalui proses-proses jiwa sebagai berikut: masa tenang,
masa ketidaktenangan, peristiwa konversi, keadaan tentram dan tenang, dan ekspresi konversi dalam hidup.
Sedangkan H. Carrier, membagi proses konversi agama dalam pentahapan
sebagai berikut: Terjadi
disentegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang
dialami. Reintegrasi kepribadian berdasarkan
konversi agama yang baru. Tumbuh
sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya. Timbul kesadaran bahwa keadaan yang
baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.
Konversi agama ada terjadi melalui
perubahan drastis (seperti kisah Khalifah Umar bin Khattab ra) dan ada juga
yang terjadi secara bertahap misalnya melalui lingkungan sekitar karena
terpengaruh kebiasaan di sekitar.
- Saran-saran
Demikianlah makalah ini
kami buat. Apabila ada kesalahan baik dalam penjelasan maupun dalam penulisan,
kami minta maaf. Kami mengharap kritik dan saran yang membangun agar dapat
menjadi sumber rujukan sehingga menjadikan apa yang kami buat ini lebih baik di
masa mendatang. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiiin.
DAFTAR
PUSTAKA
Agama, Departemen. 2000. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Diponegoro
Daradjat, Zakiah. 2005. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang
Jalaluddin. 2005. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Raharjo. 2002. Pengantar Ilmu Jiwa Agama. Semarang: Pustaka Rizki Putra
Sururin. 2004. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada
ماشاء الله تبارك الله
BalasHapusجزاكم الله خيرا كثيرا :)